• Rabu, 7 Desember 2022

Meraih Lailatul Qadar di Tengah Pandemi

- Selasa, 4 Mei 2021 | 17:23 WIB
lailatul
lailatul

HARIAN SEDERHANA, DEPOK –  Malam Lailatul Qadar adalah momen yang ditunggu-tunggu umat Islam karena keutamannya yang dijelaskan dalam Al-qur'an dan hadist Nabi Muhammad SAW. Biasanya, banyak umat muslim yang meramaikan masjid di 10 hari terakhir Ramadan untuk beribadah demi meraih kebaikan malam Seribu Bulan tersebut.

Namun pandemi Covid-19 yang belum berhenti, membuat masjid-masjid membatasi jumlah jamaah dan banyak Muslim yang terkendala melakukan itikaf di masjid. Sebuah kondisi yang membuat sulit melakukan tradisi itikaf pada 10 malam terakhir di bulan suci Ramadan.

Bisakah umat Islam meraih lailatul qadar di tengah kondisi ini?

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Sholahuddin Al-Aiyub, dalam kutipannya di Antara, Sabtu (1/5/2021),  menjelaskan lailatul qadar masih bisa didapatkan meski dengan berbagai keterbatasan karena pandemi Covid-19. Terkendalanya tradisi itikaf yang biasa dilakukan pada 10 malam terakhir dikatakan tidak menutup pintu mendapatkan lailatul qadar bagi seseorang.

“Itikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Namun demikian, betul apabila kondisinya tidak memungkinkan kita bisa melakukan taqarrub ilallah dari rumah, tidak dilakukan dengan itikaf. Dengan illah (sebab) kondisi yang mewajibkan kita melakukan itu. Maka Insya Allah, Allah ‘aalimun bi zalika, maka Allah akan mengetahui niat baik kita,” katanya.

Menurutnya, Rasulullah SAW memang mencontohkan menggiatkan ibadah di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Namun, ibadah kepada Allah SWT sangat luas bentuknya dan bisa dilakukan dengan berbagai hal, tidak hanya dengan itikaf.

“Ibadah sangat luas sekali, tidak hanya dengan itikaf, ada dengan berzakat, ada dengan halaqah ilmu, ada dengan misalnya kita menulis sebuah makalah yang bermanfaat, itu semua bagian dari ibadah. Kita kemudian misalnya memberikan sahur, memberikan makan kepada orang-orang di jalanan, itu bentuk ibadah untuk kebaikan yang bisa dijalankan dan diintensifkan pada 10 hari terakhir,” ungkapnya.

Adapun bagi yang ingin melakukan qiyam Ramadan dengan salat sunnah seperti tarawih atau salat sunnah lainnya, karena kondisi masih pandemi, bisa dilakukan di rumah. Tidak memaksakan diri untuk beritikaf di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan untuk waspada. Terlebih salat-salat sunnah memang lebih utama dilakukan di rumah.

“Salat sunnah tarawih sendiri, Rasulullah melakukannya di masjid hanya 3 hari, selebihnya melaksanakan di rumah. Kemudian karena memang begitu apa yang disampaikan para ulama, sebagaimana dilakukan para Rasul untuk salat sunnah, fadilahnya dilakukan di rumah,” jelasnya.

Menurutnya, para ulama telah mengajarkan saat pandemi ini maqasid syariah yang paling utama diadahulukan adalah hifzu nafsi atau keselamatan jiwa. Baru kemudian yang kedua adalah hifzu din atau menjaga keberlangsungan agama. Karena itu, dirinya mengimbau umat Islam tetap menggiatkan ibadah dengan mengikuti aturan protokol kesehatan.

“Kita ingin menjalankan perintah agama dengan beribadah di lailatul qadar, akan tetapi kita juga harus memperhatikan kondisi yang ada pandemi ini yang menyebabkan Allah menganjurkan untuk hifzu nafsi terlebih dahulu. Karena itu, niat baik tesebut harus diiringi dengan kondisi yang ada sehingga kalau tidak memungkinkan dilakukan di masjid, tempat umum, keramaian yang melibatkan banyak orang ketika berjamaah, itu bisa dilakukan di rumah dan itu Allah mengetahui niat baik kita,” katanya.

Editor: Slamet

Tags

Terkini

Aparatur Kelurahan Serua Semangat Jumsih

Minggu, 29 Mei 2022 | 15:04 WIB

PPAPRI Depok Tekankan SK KNPI Sah

Jumat, 27 Mei 2022 | 21:44 WIB

Lebaran Depok Perkenalkan Tradisi Tempo Dulu

Jumat, 27 Mei 2022 | 19:02 WIB

Terpopuler

X