• Selasa, 24 Mei 2022

Meningkatkan Motivasi Pengajar dan Pendidik dengan Metode Hypnoteaching

- Selasa, 31 Agustus 2021 | 05:00 WIB
Hypnoteaching sebuah metode pembelajaran dengan menggunakan teknik-teknik yang berlaku dalam hipnotis. (Wahyu Saputra)
Hypnoteaching sebuah metode pembelajaran dengan menggunakan teknik-teknik yang berlaku dalam hipnotis. (Wahyu Saputra)

Oleh: Nining Yurista Prawitasari, S.H., M.H

Pandemi Covid-19 membawa pengaruh kepada semua lintas kehidupan, khusunya bidang pendidikan. Akibat dari pandemi Covid-19, pelaksanaan sekolah dari taman kanak-kanak hingga universitas ditutup. UNESCO mengatakan bahwa 300 juta murid terganggu kegiatan sekolahnya dan penutupan sekolah sementara akibat dari kesehatan dan krisis (Handoyo, 2020). Covid-19 membuat suatu uji coba terhadap pelaksanaan pendidikan secara daring yang dilakukan secara massal (Sun, Tang, & Zuo, 2020). Ribuan sekolah di negara lain, termasuk Indonesia, menutup sekolah sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran Covid-19 (CNN Indonesia, 2020).

Tanggapan UNESCO sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, sangat menyetujui pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan wadah daring upaya pembelajaran jarak jauh, sehingga pembelajaran dapat dijangkau oleh siswa dimana pun berada tanpa tatap muka secara langsung. Perubahan dari pelaksanaan pembelajaran dalam kelas hingga pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan ini, yang berperan sebagai aktor terpenting ialah guru atau pendidik, karena mereka adalah pengendali dalam proses. Pengaplikasian pembelajaran daring ini adalah bukti dari revolusi industry 4.0, dimana pengaksesan teknologi tidak terbatas, sehingga memungkinkan pelaksanaan pembelajaran daring atau jarak jauh.

Dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 diperlukan kerjasama semua pihak untuk mengatasinya. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah tidak berkerumun dalam keramaian, dan tidak bepergian ke tempat keramaian. Masyarakat yang bekerja di kantor, diusahakan untuk melakukan pekerjaan di rumah saja (Work From Home). Begitu pula pada bidang pendidikan, pembelajaran dilakukan dirumah saja (Learning From Home). Learning From Home merupakan pengalaman pertama yang dilakukan secara massal di Indonesia. Banyak pelajar dan pengajar yang sekarang sudah terbiasa dengan Learning From Home yang dilakukan secara daring. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Coronavirus Disease (Covid-19) poin ke 2 yaitu proses belajar dari rumah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

A. Belajar dari rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.
B. Belajar dari rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemic Covid-19.
C. Aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah dapat bervariasi antarsiswa, sesuai minat dan kondisi masing-masng, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah.
D. Bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru, tanpa diharuskan memberi skor atau nilai kuantitatif.

Agar pembelajaran daring dapat berjalan dengan efektif, diperlukakan persiapan oleh pihak pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran yang akan dijabarkan kepada siswanya. Kemampuan atau kualitas seorang pengajar dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang baik dapat menghasilkan jumlah dan mutu sumber daya memadai, dan sebaliknya, jika pendidikan yang diberikan buruk, maka mutu sumber daya yang dihasilkan tidak akan memenuhi harapan. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Berdasarkan fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional tersebut, maka seluruh jenjang pendidikan dari mulai Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi harus diselenggarakan secara sistematis. Pembentukan sikap dilakukan baik sebelum proses pembelajaran maupun sikap sebagai hasil proses pembelajaran. Sikap dapat diartikan suatu kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu informasi atau kumpulan ide dari luar dirinya. Sikap menerima akan memunculkan respon positif sedangkan sikap menolak akan menimbulkan respon negatif. Kegiatan pembelajaran di kelas memiliki peran yang sangat penting dalam pengelolaan pendidikan, karena keberhasilan satuan pendidikan dalam mengimplementasikan dan mencapai tujuan kurikulum sangat ditentukan oleh keberhasilan sang pengajar dalam mengelola kegiatan pembelajaran di kelas.

Sosok guru dan dosen sebagai pengajar serta pendidik memiliki peranan yang sangat penting, karena selain mengajar, sosok pendidik itu juga merupakan teladan yang akan menjadi panutan bagi anak didiknya. Seorang pendidik harus selalu menjaga emosi dan pikirannya untuk selalu berada pada energi yang positif sehingga perlu terus dipelihara karena emosi dan pikiran bawah sadar siswa dengan mudah merekam dan meniru setiap perkataan-perkataan dan pola bahasa yang diucapkan sehari-hari oleh sang pendidik. Suasana belajar yang menyenangkan dan siswa memahami pelajaran dengan maksimal, merupakan tolok ukur efektifitas dalam kegiatan belajar mengajar. Kompetensi dan komunikasi sang pendidik adalah salah satu penentu terciptanya pengajaran yang efektif di kelas.

Salah satu target peningkatan kualitas pendidikan adalah tercapainya tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya terobosan-terobosan inovatif dari para pengajar dan pendidik, yaitu mencari strategi baru atau penyempurnakan strategi yang sudah ada. Strategi ini meliputi pendekatan, model, metode, dan teknik yang mampu menggiring siswa menjadi yang diharapkan oleh mayarakat, yaitu siswa yang cerdas, berperilaku baik, patuh kepada orang tua, serta berprestasi. Maka dari itu kreativitas pengajar dan pendidik sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Seorang pengajar dan pendidik harus benar-benar dituntut untuk kreatif inovatif dalam mengajar sehingga tidak menimbulkan kebosanan dalam pembelajaran yang diberikan.

Halaman:

Editor: Wahyu Saputra

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Depok, Dulu dan Sekarang

Rabu, 29 September 2021 | 05:51 WIB

Ramadan, Bulan Penuh Kemuliaan

Sabtu, 1 Mei 2021 | 20:09 WIB

Menuju "Jembatan Perubahan" Pers Depok

Selasa, 13 April 2021 | 10:24 WIB

Keistimewaan Bulan Rajab

Jumat, 5 Februari 2021 | 06:00 WIB

Semoga Pandemi Segera Berakhir

Selasa, 2 Februari 2021 | 06:00 WIB

Meminta Maaf Itu Keren

Selasa, 5 Januari 2021 | 07:00 WIB

Ketika Para Ayah Telah Kembali

Jumat, 18 Desember 2020 | 07:00 WIB

Semangat Hari Pahlawan

Selasa, 10 November 2020 | 07:00 WIB

Remaja Memerlukan Media Penyaluran

Rabu, 21 Oktober 2020 | 08:49 WIB

Perjuangan Diiringi Doa

Jumat, 9 Oktober 2020 | 07:00 WIB

Insha Allah PKS Lebih Berkah

Selasa, 6 Oktober 2020 | 07:00 WIB

Peran Media Dalam Membangun Kota

Jumat, 18 September 2020 | 07:17 WIB

Terpopuler

X