• Selasa, 24 Mei 2022

Keterkaitan antara Penyusunan RPP, Peran Guru dan Sekolah dalam Pencapaian Student Well-Being

- Jumat, 22 Oktober 2021 | 06:25 WIB
Screen Listina, S.Pd. SD, Pengajar di SDN Sindangkarsa 2 Depok.  (Istimewa)
Screen Listina, S.Pd. SD, Pengajar di SDN Sindangkarsa 2 Depok. (Istimewa)

Oleh : Screen Listina, S.Pd.SD

Penulis adalah Pengajar di SDN Sindangkarsa 2, Kota Depok. 

Program merdeka belajar yang dikembangkan oleh Kemendikbud salah satu upayanya adalah di satuan pendidikan tercipta Wellbeing Student yang mampu menciptakan kebahagiaan, pola fikir positif, dan emosi positif siswa.

Student wellbeing dapat diwujudkan apabila merumuskan tujuan pendidikan melalui pembelajaran yang dilakukan di kelas harus berorientasi pada siswa.

Untuk mewujudkannya, maka akan berkaitan dengan bagaimana seorang guru memiliki pemahaman dan keterampilan dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa saat ini.

Selain pemahaman seorang guru sebagai ujung tombak dalam menciptakan kebahagiaan siswa maka diharapkan guru memiliki pengetahuan pedagogic, yang sesuai dengan perkembangan peserta didik baik secara fisik, pengetahuan, pengalaman baik secara individu ataupun sosial.

Pengertian RPP

Rencana pelaksanaan pembelajaran, atau disingkat RPP, adalah pegangan seorang guru dalam mengajar di dalam kelas. RPP dibuat oleh guru untuk membantunya dalam mengajar agar sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada hari tersebut.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berisi pengaturan yang berkenaan dengan perkiraan atau proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, kemungkinan pelaksaan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan ataupun tidak karena proses pembelajaran bersifat situasional, apabila perencanaan disusun secara matang maka proses dan hasil pembelajaran tidak akan jauh dari perkiraan.

Menurut Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar.

Selanjutnya menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 lampiran IV tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran, tahapan pertama dalam pembelajaran menurut standar proses adalah perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, RPP adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu mengacu pada silabus.

Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.

Tujuan dari pencapaian pembelajaran diharapkan siswa terlibat penuh dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), sehingga dapat merasakan langsung pengalaman belajar yang diperoleh baik secara pengetahuan, pengalaman belajar maupun perkembangan psikologi dan sosialnya.

Pada Era perkembangan pendidikan saat ini, pencapaian pembelajaran dipusatkan pada siswa dalam istilah STUDENT CENTER LEARNING. Diharapkan pembelajaran menggunakan materi, metode, media pembelajaran dan sumber belajar yang dapat mendukung tujuan pembelajaran yang berorientasi pada siswa.

Kadangkala dalam pelaksanaan banyak guru yang terjebak pada metode lama yaitu TEACHER CENTER LEARNING sehingga kebutuhan yang harus dipenuhi oleh seorang guru pada siswa tidak tercapai.

Guru sibuk menjelaskan materi tanpa memperhatikan bagaimana keadaan siswa saat pembelajran berlangsung. Apakah siswa memperhatikan, mendengarkan dan memahami apa yang disampaikan.

Perkembangan psikologi positif memunculkan istilah yang baru yaitu well-being.Well-being atau dapat diartikan sebagai kesejahteraan yang merupakan istilah umum untuk kondisi individu atau kelompok, baik dalam bidang sosial, ekonomi, psikologi, spiritual ataupun secara medis yang sejahtera.

Kesejateraan (well-being) merupakan sebuah konsep yang merujuk kepada keadaan individu yang memiliki mental yang sehat. Well-being juga merujuk kepada konsep kebahagiaan, dimana kebahagiaan adalah tujuan dari aktivitas yang dilakukan oleh manusia.

Menurut Allardt well-being didefinisikan sebagai keadaan yang memungkinkan individu memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan material maupun non-material.

Sedangkan Ryan & Deci mengemukakan bahwa konsep kesejahteraan hidup (well-being) mengacu pada pengalaman dan fungsi psikologis yang optimal. Terdapat dua prespektif yang menjelaskan tentang konsep well-being, yakni prespektif hedonic dan prespektif eudaimonic.

Menurut Diener well-being dalam prespektif hedonic adalah cenderung kepada mencari kebahagiaan dengan menghindari perasaan sakit atau hal-hal yang tidak menyenangkan. Dalam hal ini prespektif tersebut seringkali disamakan dengan subjectif well-being (SWB).

Sedangkan well-being dalam prespektif eudaimonic sesuai yang dikemukakan oleh Ryan & Deci ialah kondisi ketika individu mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki dan juga mampu mengaktualisasikan dirinya menjadi individu yang seutuhnya, sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki.

Perspektif tersebut sering disamakan dengan psychological well-being (PWB). Penelitian tentang well-being tidak hanya mengacu pada SWB & PWB saja, tetapi didalam dekade akhir-akhir ini semakin banyak penelitian mengenai well-being dengan prespektif baru yang mana disesuaikan dengan kondisi waktu dan tempat, diantaranya ialah children well-being, working well-being, school well-being,emotical well-being, spiritual well-being dan lain sebagainya.

Student atau peserta didik memiliki kedudukan sentral atau main customer dalam sistem pendidikan, maknanya adalah muara dari seluruh sistem pendidikan adalah peserta didik (student).

Apapun yang dilakukan di dunia pendidikan dimaksudkan untuk menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan pesera didik, dan siapapun yang bekerja di dunia pendidikan, baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya, orientasi pikiran, sikap, tindakan dan pelayanan yang diberikannya tertuju pada kepentingan peserta didik, jika pelanggan utama (main customer) nya tidak untuk kepentingan peserta didiknya, menurut penulis akan lebih baik jika mereka meninggalkan pekerjaannya di bidang pendidikan, cari pekerjaan lain. Dan outcome dari keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran bagi peserta didik adalah peserta didik (student) menjadi manusia pembelajar (learning person). Johnson, Musial, Hall dan Collnick (2018) dalam bukunya “Foundation of American Education” menegaskan, “major job of all education is to help student learn”.

Sudah on the trace jika selama ini, satu indikator penilaian kinerja guru diukur dari sejauhmana seorang guru melahirkan peserta didiknya menjadi manusia pembelajar.

Peserta didik (student) tidak hidup di dunia yang vakum, mereka hidup di dunia yang terbuka, dipengaruhi oleh berbagai hal, baik bersifat positif maupun negatif. Besarnya pengaruh dari luar dirinya, maka semua peserta didik wajib mendapat pembimbingan dari orang dewasa agar mereka bertumbuhkembang dengan baik.

STUDENT WELL-BEING

Kesejahteraan siswa (student well-Being) didefinisikan sebagai keadaan yang berkesinambungan dari kondisi mood positif dan sikap, ketahanan (resiliensi) dan kepuasan diri, serta hubungan dan pengalaman di sekolah (Noble, McGrath, Roffey & Rowling, 2008) Hal ini berarti bahwa kesejahteraan (well-Being) mempunyai peran yang sangat penting dalam proses pendidikan di sekolah. Kesejahteraan (Well-being) yang tinggi berhubungan dengan peningkatan hasil akademik, kehadiran di sekolah, perilaku prososial, keamanan sekolah dan kesehatan mental (Noble, McGrath, Roffey & Rowling, 2008).

Tujuan pendidikan nasional berdasarkan undang-undang 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik. Sekolah adalah instansi penting untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sekolah diharapkan mampu mengemban tujuan pendidikan sehingga berhasil memberikan pengalaman terbaik bagi peserta didik yang pada akhirnya membuat peserta didik peserta didiknya merasa sejahtera.

PERAN GURU

Guru mempunyai peran penting yaitu mengajar yang dan membimbing siswa. Mengajar dibutuhkan untuk menciptakan pembelajaran yang baik dan sesuai agar pembelajaran di dalam kelas dapat terlaksana serta dapat memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran, sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Peran yang dilakukan guru meliputi peran guru sebagai lecture, guru sebagai pembimbing proses pembelajaran bagi siswa, guru sebagai pengelola kelas, guru sebagai mediator dan fasilitator serta guru sebagi evaluator.

Dengan demikian diharapkan terciptanya pembelajaran yang efektif dan menjadikan peserta didik sebagai individu yang berakhlak mulia.

Menurut Moh. Uzer Uzman dalam buku Menjadi Guru Profesional menyebutkankan bahwa peran guru yaitu meliputi peran guru sebagai demonstrator, peran guru sebagai pengelola kelas, peran guru sebagai mediator dan fasilitator, peran guru sebagai evaluator, peran guru sebagai pembimbing, peran guru dalam pengadministrasi, peran guru secara pribadi dan peran guru secara psikologis maka penelitian ini terfokus pada peran guru yang paling dominan dalam proses pembelajaran yaitu peran guru sebagai demonstrator, peran guru sebagai pembimbing, peran guru sebagai pengelola kelas, peran guru sebagai evaluator dan yang terakhir yaitu peran guru sebagai mediator dan fasilitator.

Peran guru adalah terciptanya serangkaian tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa yang menjadi tujuannya.

Prajudi Atmosudirjo menyebutkan bahwa guru memuliki peran yang sangat besar dalam pendidikan, di pundaknya dibebani suatu tanggung jawab atas mutu pndidikan. Maka dari itu guru harus mengembangkan dirinya dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan-ketrampilan yang dibutuhkan dalam pembelajaran.

Menurut Adam dan Decey dalam Basic Printiciple Of Student Teaching, peran guru antara lain sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator dan konselor.

Guru harus merencanakan tujuan dan mengidentifikasi kompetensi yang hendak dicapai. Tugas guru adalah menetapkan apa yang telah dimiliki siswa sehubungan dengan latar belakang dan kemampuannya, serta kompetensi apa yang mereka perlukan untuk dipelajari dalam mancapai tujuan. Untuk merumuskan tujuan, guru perlu melihat dan memaham seluruh aspek proses pembelajaran.

Guru harus melihat keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran, yang paling penting bahwa peserta didik melaksanakan kegiatan belajar tidak hanya jasmaniah, tetapi peserta terlibat secara psikologis.

Guru harus membimbing peserta didik untuk mendapatkan pengalaman, dan membentuk kompetensi yang akan mengantar mereka mencapai tujuan. Guru harus memaknai kegiatan belajar, guru harus memberikan kehidupan dan arti dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Bisa jadi pembelajaran yang direncanakan dengan baik, dilaksanakan secara tuntas dan rinci, tetapi kurang relevan, kurang hidup, kurang bermakna, kurang menantang ingin tahu, dan kurang imaginative. Ini yang menimbulkan pembelajaran yang dialami siswa kurang bermakna.

Guru sebagai manajer bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif dikalangan siswa.

Guru hendaknya mampu untuk memimpin kegiatan belajar yang efektif dan efisien dengan hasil optimal. Guru harus mempunyai pengetahuan mengenai teori belajar mengajar dan teori perkembangan sehingga mudah menciptakan situasi belajar mengajar yang mudah menyenangkan sesuai dengan perkembangan siswa dan memudahkan pencapaian tujuan yang diharapkan.

Sangat luasnya peran guru dapat diambil garis besarnya bahwa apa yang diperankan oleh seorang guru bermuara kepada kebutuhan peserta, baik secara intelektual, fisik dan yang terpenting adalah kebahagian peserta didik. Sehingga siswa siap dalam menghadapi kondisi di sekitarnya.

Menghadapi pengaruh dari luar yang sangat kuat, seperti pengaruh wabah COVID 19 sekarang ini, maka semua peserta didik wajib memiliki well-being yang baik. Well-being adalah kondisi mental dan emosi yang relatif konsisten, memiliki beberapa ciri berikut ini: (1) perasaan dan sikap positif; (2) hubungan positif dengan orang lain di lingkungan sekolah; (3) daya lenting; (4) pengembangan potensi diri secara optimal; dan (5) tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pengalaman belajar”, dikutip dari Weilin Han (2020) dalam artikelnya berjudul “Membangun Pola Pikir Positif dan Relasi Positif sebagai Kekuatan Kerangka Well-being”.

Kerangka kepositifan (keadaan emosi positif yang berkelanjutan sebagai dampak dari penerapan pola pikir yang positif saat berhadapan dengan berbagai situasi yang dihadapi siswa selama bersekolah) dibangun dari kekutan emosi positif (emosi yang membangun dan menunjang siswa dalam beraktivitas) dan pola pikir positif (pola pikir konstruktif yang dipakai untuk mempertahankan kondisi emosi yang positif).

Melalui kerangka well-being ini kebiasaan berpikir negatif yang sangat menguasai (80%) umat manusia dan berpengaruh para perilakunya sekarang ini dapat dirubah menjadi kebiasaan berpikir positif yang pada gilirannya berdampak pada perilaku positif pula.

Tantangan perubahan pola pikir (mindset) masa pandemic COVID 19, seperti sikap mental nyaman dengan ketidaknyamanan, sikap kemauan untuk belajar, orientasi utama kepada murid, dan menurunnya kecemasan terhadap teknologi dapat dipertahankan untuk dilakukan.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, selain pola pikir positif, well-being juga terkait dengan relasi positif. Relasi atau hubungan positif adalah pola interaksi social antara siswa dengan siswa lain, guru dan staf sekoah yang didasari oleh nilai –nilai prososial (Weilin Han, 2020).

Beberapa asumsi menjelaskan pentingnya relasi positif guna meningkatkan kecerdasan emosi anak, diantaranya: (1) perasaan positif yang dirasakan siswa bersumber dari rasa terhubung atau terkoneksi dengan berbagai kalangan di sekolah, muncul perasaan nyaman dan diterima di sekolah; (2) mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan keorgnisasian siswa lainnya; (3) lingkungan fisik seperti ruang hijau, fasilitas; dan (4) status dan prestasi sekolah menimbulkan rasa bangga pada diri siswa.

Guna mengefektifkan hubungan sosial emosional di kalangan warga sekolah, maka pihak sekolah perlu melakukan pemetaan hubungan (mapping relationship) warga sekolah, guna mengetahui sejauhmana hubungan social dan emosional di kalangan warga sekolah, seperti hubungan sosial emosional antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, kepala sekolah dengan guru. Banyak riset membuktikan bahwa, hubungan social emosional diantara warga sekolah berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa kekuatan kerangka Student Well-being dapat dibentuk melalui sejauhmana pihak sekolah membangun pola pikir positif dan relasi positif di kalangan warga sekolah.

Terkait dengan Student Well-being, Bapak Nadiem Anwar Makarim selaku Mendikbud RI mengimbau guru mulai melakukan perubahan kecil dari ruang kelas, ajaklah kelas berdiskusi bukan hanya mendengar, berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Temukan bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Tawarkan bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan mengajar. Apapun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak”, dikutip dari Tempo, 8 Nopember 2020 (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)

Setelah kita pahami penyusunan RPP, konsep student well-Being, peran guru serta sekolah terhadap tujuan pendidikan, maka tujuan yang kita tetapkan dalam proses pembelajaran adalah bagaimana mengaitkan antara tujuan pembelajaran, materi, metode dan media pembelajaran yang kita gunakan dapat merepresentatifkan pencapaian student well-Being di sekolah.Tujuan pendidikan akan terwujud bila dalam merancang RPP dan merealisasikan pada proses pembelajaran berorientasikan pada Student Well-Being.

Editor: Heru Sasongko

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Depok, Dulu dan Sekarang

Rabu, 29 September 2021 | 05:51 WIB

Ramadan, Bulan Penuh Kemuliaan

Sabtu, 1 Mei 2021 | 20:09 WIB

Menuju "Jembatan Perubahan" Pers Depok

Selasa, 13 April 2021 | 10:24 WIB

Keistimewaan Bulan Rajab

Jumat, 5 Februari 2021 | 06:00 WIB

Semoga Pandemi Segera Berakhir

Selasa, 2 Februari 2021 | 06:00 WIB

Meminta Maaf Itu Keren

Selasa, 5 Januari 2021 | 07:00 WIB

Ketika Para Ayah Telah Kembali

Jumat, 18 Desember 2020 | 07:00 WIB

Semangat Hari Pahlawan

Selasa, 10 November 2020 | 07:00 WIB

Remaja Memerlukan Media Penyaluran

Rabu, 21 Oktober 2020 | 08:49 WIB

Perjuangan Diiringi Doa

Jumat, 9 Oktober 2020 | 07:00 WIB

Insha Allah PKS Lebih Berkah

Selasa, 6 Oktober 2020 | 07:00 WIB

Peran Media Dalam Membangun Kota

Jumat, 18 September 2020 | 07:17 WIB

Terpopuler

X